 |
| pintu keluar dari mesjid menuju Jl. Masjid Besar |
Pertama kali ke Kotagede tahun 2009, naik mobil sewaan dan itu juga karna sekedar ingin makan di Omah Dhuwur. Kunjungan sekilas itu bikin saya sadar bahwa nama Kotagede begitu sering saya dengar tapi engga pernah terpikir untuk dikunjungi.
 |
| Gang Mataram dan Gapura pintu masuk Mesjid Kotagede |
Di 2010, saya kembali lagi kesini karna sudah baca cerita sejarah tentang Kotagede yang menarik, ada cerita tragisnya, ada intrik2nya, pada dasarnya saya suka sejarah, legenda dsb jadi kata "Ibukota Mataram - Panembahan Senapati - Eksekusi" - dan berbagai kata-kata eksotis lainnya itu amat merangsang.
Naik mobil sewaan dan parkir di pasar Kotagede, mulailah penyusuran jalan besarnya, Jalan Mondokaran yaitu jalan didepan Omah Dhuwur.
Selintas Kotagede ini terasa biasa saja. Ok..lah memang berkesan tua, tapi biasa saja! saya sudah datang ke beberapa kota tua jadi suatu kota tua yang sepi-sepi saja rasanya engga terlalu istimewa. Dan katanya kota perak tapi kok banyak toko perak tutup saat itu? Jadi dimana tempat-tempat sejarah yang pernah dibaca? Ngga ada petunjuk sama sekali.
 |
| tembok Masjid Kotagede |
 |
| pintu masuk ke Masjid Kotagede dr Gang Mataram |
Karna ngga ketemu apa-apa, saya jalan kembali ke mobil untuk kembali ke Yogya. Tapi disatu gang, saya berhenti dan ingin memasukinya , mungkin karna namanya
'Gang Mataram' seolah -membawa aura ke MATARAMAN yang dicari.
 |
mural di rumah penduduk - Jalan Masjid Besar
|
Sebenernya itu seperti jalan kampung biasa. Jalannya paving, tidak ada kesan kumuh apalagi bau. Seratus meter saya berjalan memasuki, dan betul! jreeeng....!! saya meliat gapura batu bata setinggi 5 meter, bener khan! Ternyata itu adalah
Gerbang Masuk Kompleks Masjid Kotagede, mesjid tertua di Yogyakarta.
 |
| labirin Kotagede |
Setelah itu saya susuri tembok Masjid dan di sini bertemu dengan Kotagede sesungguhnya. Saya melihat tembok yang dibangun di sekeliling Masjid, saya bertemu dengan pemandian disekitar Makam, saya melihat kehidupan di lorong2 sempit, saya lihat rumah2 dengan jendela tua dan pintu-pintu tua. Dan yang membuat jatuh cinta adalah sensasi aman tentrem yang "Njawani" saya gak bisa gambarkan kenapa, tapi terasa begitu.
Jadilah Kotagede menjadi titik tujuan yang rasanya mau didatangi lagi.
 |
| kehidupan di labirin Kotagede |
 |
| pintu rumah |
Di tahun 2013 saya kembali lagi, kali ini saya sudah tahu bahwa saya perlu pakai motor bukan mobil, karna saya mau masuk lebih dalam menyusuri jalan2 kecil Kotagede. Saya gunakan 'Motor Taksi' trend baru di Jogja, yang menurut saya membantu sekali. Telpon dari Jakarta, minta dijemput di Bandara jam 7 pagi, bisa order : mau di boncengin ama 'CEWE' aja. Recommended deh!
Dan pagi -pagi motor sudah siap dibandara dan sepanjang hari boncenganlah saya sama 'Mbak Ira'.
Seru! dan no macet. Sisip kanan sisip kiri, makan soto Sholeh dulu, lalu ke kota Gede lagi.
Perjalanan dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore cuman bayar Rp 160 rb- lumayan!
Kali ini rute yang mau dipilih adalah Pasar Legi, dan mau tau daerah dari sisi timur dan selatan Pasar Legi, berarti akan menyusuri Jalan Masjid Besar dan turuti hati saja setelah itu - jalani gang-gang kecil nya, mereka seperti labirin, soal arah saya buta, untung ada Mbak Ira. Dari sisi ini kota Gede terkupas dengan lebih detil, saya melihat, pintu masuk Pemakaman Raja/ Mesjid Kotagede yang berbeda dengan bila masuk dari Gang Mataram, banyak kompleks Pemakaman seperti Pemakaman Hasto Renggo, tempat Watu Gilang, kawasan "Between Two Gates", mural mural banyak disepanjang jalan Masjid Besar, mural santun yang banyak berisi nasihat
semua menarik, bagi yang suka motret, yang suka cerita Legenda, suka arsitektur, bagi saya disini kita bisa menemukan apa yang kita mau. Bagi yang gak suka apa-apapun, mungkin bisa belanja di chocolate MONGGO dan ngopi-ngopi di Omah Dhuwur.
Sungguh, menyusuri labirin-labirin di Kotagede memberikan sensasi rasa indah. Kampung-kampung sederhana itu bersih , tua tapi apik, dan memikat, beberapa kampung mempunyai jalan yang dilapisi oleh batu Candi dengan sistem drainase yang baik, terbukti dariadanya besi-besi bulat yang menandakan jalan air di bawah jalan.
Disuatu gang, entah dimana, rasanya kami tersesat, karna kami berputar-putar disepanjang labirin yang selalu berbeda, tiba-tiba saya bertemu rumah cantik ini : RUMAH PESIK.
Dari kejauhan, tembok berwarna hijau terlihat mendominasi, berdiri megah dijalan kecil yang sempit terasa sangat anomali. Dindingnya berhias patung-patung setinggi 2-3 meter.
Di rumah kuno berarsitektur unik ini, dipintu masuknya tertulis : "HE Lech Walesa stayed at rumah Pesik May 2010" dengan tanda tangannya.
Keren !! Lech Walesa Presiden Polandia dan Nobel perdamaian tahun 1993 tinggal disini!
Kejutan-kejutan seperti ini selalu menjadi hadiah disetiap perjalanan mandiri yang suka-suka ini. Ada rasa ingin tau, rasa was-was tersesat, bertanya-tanya atas setiap keputusan kemana kaki melangkah, apa yang akan terlihat didepan? kalau belok kekiri apa yang terjadi? kalau belok kanan apa yang didapat? ah..! sensasi itu seperti candu.
Saya mau kembali ke sini lagi. Di hari yang lain saya akan berjalan lebih pelan disepanjang labirin ini,
saya ingin masuki pemakaman yang mengharuskan saya berpakaian khusus, dan saya juga mau berdoa dan shalat dibawah naungan atap Masjidnya..