Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn't do than by the ones you did do.
So throw off the bowlines,
sail away from the safe harbour.
Catch the trade winds in your sails.
Explore. Dream. Discover.
- Mark Twain

Wednesday, February 19, 2014

Museum Taman Prasasti


Saya bertekad akan mulai melangkah lagi ke museum.
Minat ini hilang dan tergantikan dengan kebiasaan 'Nge MALL" bertahun-tahun - sampai mulai berpikir ngga ada lagi tempat di Jakarta selain mall.



Sekarang saya kangen untuk jalan -jalan diluar Mall, saya mau ketempat-tempat yang punya cerita, tempat yang menggelitik imajinasi.





Taman Pemakaman ini terasa amat "Thematik".
Penuh dengan patung bersayap, berdoa dan menangis - kata-kata sendu juga tercantum di nisan-nisan orang-orang tercinta yang dipanggil oleh Sang Empunya Hidup.





"nobody knows the troubles I see - nobody knows my sorrow" 
(nisan Soe Hok Gie)



" thy will o lord! be done" - farewell, dear friends. my life is past. my love to you so long did last. and now for me no sorrow take. but love each other for my sake.
(nisan Mary Anne Mackenzie)


Museum Taman Prasasti :
Jl. Tanah Abang 1, buka Selasa- Minggu

Thursday, February 13, 2014

Pantai Mawun - Lombok Selatan


Ada pantai Mawun di Lombok Selatan.- naik kebukit- lewat sawah hijau yang panjang- jejeran pohon kelapa- sesekali sapi melintas ditengah jalan -jalan kecil tapi mulus- kadang bau kotoran sapi menyeruak romantis! – setelah menanjak bukit disatu point diatas bukit muncullah pantai "Mawun" dr balik bukit- keren!


jalan menuju Pantai Mawun 

Pantainya diapit dua bukit hijau kanan kiri- berbentuk kantung cekung kedalam -sepi bukan main- air jernih spt kristal warna tosca- dan Pasirnya seperti minta diinjak…




Keadaan alamnya masih asli.
Disini sekali-sekalinya saya melihat tiba-tiba sekawanan kerbau digiring sepanjang pantai, melintas santai, menghindar turis yang lagi berjemur, turis itu kelihatan terduduk kaget waktu dia lihat ada kawanan kerbau sudah ada didekatnya












Anak di Pantai Mawun

Saya bertemu anak-anak ini di sini.
 2 anak kakak beradik yang selalu bergandengan. 
Dia mendekat dan menyapa Tania: “Cantik sekali!!” katanya…
Dan sejak itu mereka  terus ada disamping Tania.


Lalu tanpa ditanya dia bilang : “Bapak saya punya istri dua” ; dia  tunjukkan jari ‘dua’, dengan bahasa Indonesia yang sepertinya dia sedang ada di kelas Bahasa Indonesia.
“Ibu saya punya anak dua”
“Dan saya bersaudara lima”…; kita mengangguk-angguk serius menanggapi dia.

Sewaktu saya foto, dan tunjukkan hasil foto di kamera, dia tertawa lepas dengan suara menyenangkan, “Ah..!! dia cantik sekali” katanya sambil menunjuk foto ‘Tania” yang berdiri disebelahnya. “Saya tidak!”..


Anak di pantai Mawun ini tidak menjual apapun, juga tidak meminta uang, dia bercakap-cakap dengan percaya diri dan tertawa lepas terus menerus.   Mereka bermain, menggambar, berhitung di pasir.




Ketika pulang saya beri dia ’10.000 rupiah’ setelah berpikir menimbang lama apakah itu cukup mendidik. Akhirnya saya putuskan memberi sambil memberi nasehat: “Ini untuk beli permen! Tapi jangan pernah mengemis pada siapapun, sampai kapanpun”

Dia menerima uang tersebut biasa saja, dan berkata: “ooo…Iya! Tidak boleh mengemis! Agama melarang!” katanya dengan suara tegas.

Saya meninggalkan pantai sambil melambai ke mereka.

Snorkling di Gili Meno - dan saya bertemu penyu laut



Saya bukan divers, juga bukan penghobi “snorkeling” sejati, seumur hidup saya hanya berkesempatan untuk snorkeling 3 kali.
Pengalaman pertama snorkeling adalah di Bunaken- di 2007.
Saat itu saya beneran terhenyak oleh keindahan yang saya liat, anemon warna warni, bintang laut warna-warna stabilo, dengan nemonya, menari-nari diujung jari saya. Rasanya saat itu saya sedang berenang dalam aquarium  indah , tidak pernah menyangka bahwa keindahan itu betul dekat dengan saya dan nyata.
Di akhir hari, saya menulis jurnal harian dan terpampang kata-kata: “I’m happy I’m alive and could witness this beauty”

Kesempatan berikutnya adalah di Phuket – ikut canoe trip yang diadakan sama John Gray- dan di satu point kita snorkeling dgn dikelilingi oleh batu-batu cadas tinggi menjulang. Snorklingnya tidak berkesan, apalagi dibandingkan dengan keindahan Bunaken, wah, gak sebanding banget.  Saya hanya melihat rumput laut rasanya waktu itu.

Dan di 2014 ini saya ke Gili Trawangan Lombok – tempat ini katanya terkenal sekali dengan keindahan alam bawah lautnya. Jadi saya bertekat melakukan snorkeling disini.

Dengan bekal nama “Oda Café” dari seorang teman, saya bertemu Pak Erwin- siempunya. Ternyata service mereka lebih kearah penyewaan alat snorkeling, dan snorkeling dilakukan di depan spot Oda café, jalan disepanjang laut sambil menengok kebawah pakai google, kurang sesuai dengan bayangan saya.
Saya bilang saya mau liat taman laut, Pak Erwin bilang itu harus sewa kapal dan nanti diantar ke laut dekat Gili Meno – bahkan disitu ada “Karang Biru” yang terkenal. Ho..ho…saya langsung bilang saya mau itu – tapi harus ketemu karang biru! Kalau tidak saya gak mau pulang!  Pak Erwin telpon temannya, dan dapat kapal untuk disewa. Biaya sewa kapal private Rp 400.000 – sewa alat snorkeling Rp 30.000 – saya ditemani 2 awak kapal yang berpenampilan beneran ‘anak laut’.

Si anak laut berdiri diujung kapal, bertindak seperti navigator, berdiri tegap sekali-sekali, gayanya beneran seperti asli keturunan nenek moyang “Seorang Pelaut”, badannya gosong, legam. Di laut yang luas dia bisa mengira-ngira ke kanan atau kekiri. Dan disatu titik, kita berhenti dan dia bilang bahwa kita sampai di titik snorkeling.
Saya tidak melihat taman laut sespektakuler Bunaken, tapi karang-karang berbentuk menarik ada dibawah sana , segerombolan ikan berduyun-duyun berenang  menuju kearah yang entah kemana. Berada di dunia yang asing ini terasa mengagumkan, karang-karang dibawah situ seperti maket sebuah kota, ada rumah, ada perkantoran, ada daerah kumuh, mungkin seperti itu. Ada yang berbentuk kubah, mungkin itu masjid, ada yang lanjip keatas, itu gerejanya, ah..menarik lah.     

Selagi saya mengapung-apung , tiba-tiba si anak laut teriak kearah saya “Ada penyu! Ada penyu”
Saya cepat-cepat menuju kearahnya sambil mencari-cari kearah yang ditunjuk.
KOSONG!! Huuuu saya dihinggapi rasa panik karna merasa kelewatan kesempatan berharga melihat kura-kura berenang di laut lepas. Namun tiba-tiba saya melhatnya, mahluk keren itu berenang di bawah saya, menuju kearah saya. Saya lagi-lagi terpukau, dia mengayuhkan kakinya di bawah sana, menghadap jelas kearah saya, seolah-olah mengusir saya dari jalannya – dia bergaya seolah-olah dia si empunya lautan  dan menatap saya sepertinya saya adalah mahluk aneh yang asing yang mengapung-ngapung tak tau tujuan diatasnya.
Lalu dia melengos – mendayung cepat dan hilang.
Saya teriak-teriak: “Saya liat penyunya!!”.

Melihat mahluk itu membuat hati saya bernyanyi,. Bahagia bahwa saya punya kesempatan melihatnya dan berenang berdampingan. Kebebasannya menyentuh hati. Perasaan yang sama pernah saya rasakan ketika saya melihat lumba-lumba berloncatan dengan gembira dan berkelompok di sekitar saya di pantai Lovina dan di laut di Bunaken. Jadi  kejam rasanya menonton pertunjukan lumba-lumba ataupun mengkonsumsi telur2 penyu, ataupun menciptakan akuarium dirumah.Alangkah indahnya bila penyu, lumba-lumba, ikan, kerang, kuda laut dan biota lain tetap hidup tenang dan penuh damai di perairan bening seperti kristal berbatas pasir putih.

Setelah itu seperti dulu lagi saya bertekat bahwa saya akan mendukung kehidupan penyu laut dan kawan-kawan lainnya, saya akan mendorong yang lain yaitu para manusia untuk juga ikut menyokong hidupnya, jangan tangkap mereka, jangan makan telur-telurnya. Biarkan cucu-cucu kita memiliki keindahan hidup bersama dengannya diratusan tahun yang akan datang.



Ps: Saya kembali ke darat tanpa berhasil melihat Karang biru yang dijanjikan- tp tak apa-apa rasanya- bertemu penyu tadi sudah cukup. ;-)