Saya bukan divers, juga bukan penghobi “snorkeling” sejati,
seumur hidup saya hanya berkesempatan untuk snorkeling 3 kali.
Pengalaman pertama snorkeling adalah di Bunaken- di 2007.
Saat itu saya beneran terhenyak oleh keindahan yang saya
liat, anemon warna warni, bintang laut warna-warna stabilo, dengan nemonya,
menari-nari diujung jari saya. Rasanya saat itu saya sedang berenang dalam aquarium indah , tidak pernah menyangka bahwa
keindahan itu betul dekat dengan saya dan nyata.
Di akhir hari, saya menulis jurnal harian dan terpampang
kata-kata: “I’m happy I’m alive and could witness this beauty”
Kesempatan berikutnya adalah di Phuket – ikut canoe trip
yang diadakan sama John Gray- dan di satu point kita snorkeling dgn dikelilingi
oleh batu-batu cadas tinggi menjulang. Snorklingnya tidak berkesan, apalagi
dibandingkan dengan keindahan Bunaken, wah, gak sebanding banget. Saya hanya melihat rumput laut rasanya waktu
itu.
Dan di 2014 ini saya ke Gili Trawangan Lombok – tempat ini katanya
terkenal sekali dengan keindahan alam bawah lautnya. Jadi saya bertekat
melakukan snorkeling disini.
Dengan bekal nama “Oda Café” dari seorang teman, saya
bertemu Pak Erwin- siempunya. Ternyata service mereka lebih kearah penyewaan
alat snorkeling, dan snorkeling dilakukan di depan spot Oda café, jalan
disepanjang laut sambil menengok kebawah pakai google, kurang sesuai dengan
bayangan saya.
Saya bilang saya mau liat taman laut, Pak Erwin bilang itu
harus sewa kapal dan nanti diantar ke laut dekat Gili Meno – bahkan disitu ada
“Karang Biru” yang terkenal. Ho..ho…saya langsung bilang saya mau itu – tapi
harus ketemu karang biru! Kalau tidak saya gak mau pulang! Pak Erwin telpon temannya, dan dapat kapal
untuk disewa. Biaya sewa kapal private Rp 400.000 – sewa alat snorkeling Rp
30.000 – saya ditemani 2 awak kapal yang berpenampilan beneran ‘anak laut’.
Si anak laut berdiri diujung kapal, bertindak seperti
navigator, berdiri tegap sekali-sekali, gayanya beneran seperti asli keturunan
nenek moyang “Seorang Pelaut”, badannya gosong, legam. Di laut yang luas dia
bisa mengira-ngira ke kanan atau kekiri. Dan disatu titik, kita berhenti dan
dia bilang bahwa kita sampai di titik snorkeling.
Saya tidak melihat taman laut sespektakuler Bunaken, tapi
karang-karang berbentuk menarik ada dibawah sana , segerombolan ikan
berduyun-duyun berenang menuju kearah
yang entah kemana. Berada di dunia yang asing ini terasa mengagumkan,
karang-karang dibawah situ seperti maket sebuah kota, ada rumah, ada
perkantoran, ada daerah kumuh, mungkin seperti itu. Ada yang berbentuk kubah,
mungkin itu masjid, ada yang lanjip keatas, itu gerejanya, ah..menarik lah.
Selagi saya mengapung-apung , tiba-tiba si anak laut teriak
kearah saya “Ada penyu! Ada penyu”
Saya cepat-cepat menuju kearahnya sambil mencari-cari kearah
yang ditunjuk.
KOSONG!! Huuuu saya dihinggapi rasa panik karna merasa
kelewatan kesempatan berharga melihat kura-kura berenang di laut lepas. Namun tiba-tiba
saya melhatnya, mahluk keren itu berenang di bawah saya, menuju kearah saya.
Saya lagi-lagi terpukau, dia mengayuhkan kakinya di bawah sana, menghadap jelas
kearah saya, seolah-olah mengusir saya dari jalannya – dia bergaya seolah-olah
dia si empunya lautan dan menatap saya
sepertinya saya adalah mahluk aneh yang asing yang mengapung-ngapung tak tau
tujuan diatasnya.
Lalu dia melengos – mendayung cepat dan hilang.
Saya teriak-teriak: “Saya liat penyunya!!”.
Melihat mahluk itu membuat hati saya bernyanyi,. Bahagia
bahwa saya punya kesempatan melihatnya dan berenang berdampingan. Kebebasannya menyentuh hati. Perasaan yang sama pernah saya rasakan ketika saya melihat lumba-lumba berloncatan dengan gembira dan berkelompok di sekitar saya di pantai Lovina dan di laut di Bunaken. Jadi kejam rasanya menonton pertunjukan lumba-lumba ataupun mengkonsumsi telur2 penyu, ataupun menciptakan akuarium dirumah.Alangkah indahnya bila penyu, lumba-lumba, ikan, kerang, kuda laut dan biota lain tetap hidup tenang dan penuh damai di perairan bening seperti kristal berbatas pasir putih.
Setelah itu seperti dulu lagi saya bertekat bahwa saya akan mendukung kehidupan penyu laut dan kawan-kawan lainnya, saya akan mendorong
yang lain yaitu para manusia untuk juga ikut menyokong hidupnya, jangan tangkap
mereka, jangan makan telur-telurnya. Biarkan cucu-cucu kita memiliki keindahan
hidup bersama dengannya diratusan tahun yang akan datang.
Ps: Saya kembali ke darat tanpa berhasil melihat Karang biru
yang dijanjikan- tp tak apa-apa rasanya- bertemu penyu tadi sudah cukup.
;-)