Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn't do than by the ones you did do.
So throw off the bowlines,
sail away from the safe harbour.
Catch the trade winds in your sails.
Explore. Dream. Discover.
- Mark Twain

Thursday, February 13, 2014

Pantai Mawun - Lombok Selatan


Ada pantai Mawun di Lombok Selatan.- naik kebukit- lewat sawah hijau yang panjang- jejeran pohon kelapa- sesekali sapi melintas ditengah jalan -jalan kecil tapi mulus- kadang bau kotoran sapi menyeruak romantis! – setelah menanjak bukit disatu point diatas bukit muncullah pantai "Mawun" dr balik bukit- keren!


jalan menuju Pantai Mawun 

Pantainya diapit dua bukit hijau kanan kiri- berbentuk kantung cekung kedalam -sepi bukan main- air jernih spt kristal warna tosca- dan Pasirnya seperti minta diinjak…




Keadaan alamnya masih asli.
Disini sekali-sekalinya saya melihat tiba-tiba sekawanan kerbau digiring sepanjang pantai, melintas santai, menghindar turis yang lagi berjemur, turis itu kelihatan terduduk kaget waktu dia lihat ada kawanan kerbau sudah ada didekatnya












Anak di Pantai Mawun

Saya bertemu anak-anak ini di sini.
 2 anak kakak beradik yang selalu bergandengan. 
Dia mendekat dan menyapa Tania: “Cantik sekali!!” katanya…
Dan sejak itu mereka  terus ada disamping Tania.


Lalu tanpa ditanya dia bilang : “Bapak saya punya istri dua” ; dia  tunjukkan jari ‘dua’, dengan bahasa Indonesia yang sepertinya dia sedang ada di kelas Bahasa Indonesia.
“Ibu saya punya anak dua”
“Dan saya bersaudara lima”…; kita mengangguk-angguk serius menanggapi dia.

Sewaktu saya foto, dan tunjukkan hasil foto di kamera, dia tertawa lepas dengan suara menyenangkan, “Ah..!! dia cantik sekali” katanya sambil menunjuk foto ‘Tania” yang berdiri disebelahnya. “Saya tidak!”..


Anak di pantai Mawun ini tidak menjual apapun, juga tidak meminta uang, dia bercakap-cakap dengan percaya diri dan tertawa lepas terus menerus.   Mereka bermain, menggambar, berhitung di pasir.




Ketika pulang saya beri dia ’10.000 rupiah’ setelah berpikir menimbang lama apakah itu cukup mendidik. Akhirnya saya putuskan memberi sambil memberi nasehat: “Ini untuk beli permen! Tapi jangan pernah mengemis pada siapapun, sampai kapanpun”

Dia menerima uang tersebut biasa saja, dan berkata: “ooo…Iya! Tidak boleh mengemis! Agama melarang!” katanya dengan suara tegas.

Saya meninggalkan pantai sambil melambai ke mereka.

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.