2 kali saya ke Sade dengan rentang waktu 3 hari – dan pengantar kami mempunyai penjelasan yang sama, bahwa: “Desa ini ada sejak tahun 1097 ; terdiri dari 700 penghuni dan 150 keluarga – sudah turun temurun 15 generasi – kami mempertahankan keaslian adat isitiadat yang diturunkan nenek moyang kami, dan kami kawin antar kami sendiri – dan menurut adat kami harus menculik gadis yang kami inginkan menikah dalam bahasa sasak adalah “Merariq” yang artinya ”Melarikan”.
Rumah didesa ini seragam – beda bentuk rumah berarti beda fungsi – mereka menamakan bangunan untuk rumah tinggal: BALE. Tembok dari anyaman bambu dan beralaskan tanah . Pengantar kami mengajak kami masuk ke rumah-rumah mereka – semua punya lay out yang sama; pintu masuk yang rendah , ada tiga anak tangga menuju ke ruang lain – dan undak2an kedua ada pintu ditengahnya – katanya itu tempat anak-anak gadis tidur.
Semua masih asli, dan penuh arti, seperto : pintu rumah hanya dibuat satu maksudnya agar anggota keluarga tidak sering keluar rumah sehingga keakraban keluarga terjalin, lalu pintu rendah: biar semua orang yang melewati pintu harus agak merunduk artinya menghormati para tetua atau para anggota keluarga yang didalam, tiga anak tangga menunjukkan filosofi WETU TELU (tiga waktu) dalam kehidupan manusia: lahir, berkembang, dan mati.
Kelihatannya memang Masyarakat disini betul-betul memilih mengabaikan modernisasi dunia luar dan memilih untuk melestarikan tradisi lama mereka. Bahkan katanya rumah-rumah ini di pel dengan menggunakan kotoran kerbau gunanya untuk mengusir lalat dan membuat lantai tanah mereka keras seperti semen. Bahkan rumah-rumah ini pun katanya dibangun menggunakan kotoran kerbau, getah kayu banjar, dan abu jerami yang dibakar.
PENDUDUK SADE
Laki-laki pergi kesawah untuk bertani - hasil tani bukan untuk dijual melainkan untuk dimakan atau pergi keluar daerah.
Perempuan-perempuannya menenun dan menggendong anak, mereka berjualan hasil tenunan mereka. Katanya menenun itu harus, kemampuan menenun melambangkan kesabaran, kemandirian dan kesiapan perempuan untuk memasuki perkawinan.
Perempuan-perempuannya menenun dan menggendong anak, mereka berjualan hasil tenunan mereka. Katanya menenun itu harus, kemampuan menenun melambangkan kesabaran, kemandirian dan kesiapan perempuan untuk memasuki perkawinan.









No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.